Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan,
sebagaimana sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
تَحَرَّوْا
لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan
Ramadhan.”[7]
Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan
daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam,
تَحَرَّوْا
لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir
di bulan Ramadhan.”[8]
Lalu kapan tanggal pasti lailatul qadar terjadi? Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah telah
menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang
paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan oleh beliau
adalah lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir
bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun[9]. Mungkin
pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada
tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima, itu semua tergantung
kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْتَمِسُوهَا
فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ
تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى
“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan
Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.”[10]
Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan
tanggal pasti terjadinya lailatul qadar adalah agar orang bersemangat untuk
mencarinya. Hal ini berbeda jika lailatul qadar sudah ditentukan tanggal
pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan.[11]
[7] HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim
no. 1169.
[8] HR. Bukhari no. 2017.
[9] Fathul Bari, 4/262-266.
[10] HR. Bukhari no. 2021.
[11] Fathul Bari, 4/266.