Pemuda Dusun Sumur Pande Daya dan Dusun Lokok Tujan Desa Sesait Kec. Kayangan KLU berbagi dengan anak yatim.
Alhamdulillah inilah pemuda-pemudi yang patut dicontoh oleh kita masyarakat dimana para pemuda/i di dusun Sumur Pande Daya dan Lokok Tujan urunan mengumpulkan uang mereka dan mencari para donatur untuk memberikan santunan kepada anak-anak yatim.
gerakan ini menggerakkan hati masyarakat disekitar dusun tersebut dan alhamdulillah masyarakatpun berkontribusi dalam gerakan berbagi itu.
"Alhamdulillah tahun ini kami bisa berbagi dengan anak yatim mulai dari berbuka puasa shalat berjamaah dan dirangkai dengan peringatan Nuzul Quran, ini adalah kepuasan batin tersendiri bagi kami bisa berbagi seperti ini, semoga saja tahun berikutnya kami bisa melakukan hal yang lebih besar lagi untuk anak-anak yatim ini dan semoga ini dihutung sebagai amal ibadah kami oleh Allah SWT amin" tuturan Asepawan Hadi salah satu pemuda disana.
ANJURAN MEMBERI MAKAN DAN KEBUTUHAN KEPADA ANAK YATIM
وَ يُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَ يَتِيمًا وَ أَسِيرًا
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan”. [QS al-Insan/ 76: 8].
Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat targhib (motivasi) untuk memberi makanan kepada orang-orang yang membutuhkannya dari orang fakir, anak yatim dan tawanan”.
وَ مَا أَدْرَاكَ مَا اْلعَقَبَةُ فَكُّ رَقَبَةٍ أَوْ إِطْعَامٌ فِى يَوْمٍ ذِى مَسْغَبَةٍ يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ أَوْ مِسْكَينًا ذَا مَتْرَبَةٍ
“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) membebaskan budak, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir”. [QS al-Balad/ 90: 12-15].
Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Memberi makan pada hari kelaparan yaitu kepada anak yatim yang memiliki kekerabatan atau kepada orang miskin yang sangat fakir yaitu yang dekat tempatnya karena kebutuhannya dan sangat fakirnya”.
لَيْسَ اْلبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ اْلمـَشْرِقِ وَ اْلمـَغْرِبِ وَ لَكِنَّ اْلبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلأَخِرِ وَ اْلمـَلَائِكَةِ وَ اْلكِتَابِ وَ النَّبِيِّينَ وَ ءَاتَى اْلمـَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِى اْلقُرْبَى وَ اْليَتَامَى وَ اْلمـَسَاكِينَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin”. [QS al-Baqarah/ 2:177].
Berkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy hafizhohullah, “Terdapat penjelasan akan sasaran berinfak yang diharapkan mendapatkan pahala pada hari kiamat adalah kepada karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan seterusnya”.
يَسْأَلُونَكَ مَا ذَا يُنفِقُونَ قُلْ مَا أَنفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَ اْلأَقْرَبِينَ وَ اْليَتَامَى وَ اْلمـَسَكِينِ وَ ابْنِ السَّبِيلِ
“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah, “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, …”. [QS al-Baqarah/ 2: 215].